Rumah biru perjuangan, dilepas dan direbut lagi.
Banyak cerita-cerita direkam dinding biru pintu kayu.
Setiap dinding biru yang bersama pintu menjadi saksi setiap karakter kami.
Lampu cerah redup sedikit banyak menjadi saksi masa muda calon dewasa.
Lantai berdebu semakin berdebu.
Ruangan sempit motor yang istirahat, kini senggang.
Dinding yang biasa bergetar karena senar gitar, kini diam.
Tak lagi ada nada-nada sumbang yang biasa meramaikan suasana.
Tidak pernah terlihat lagi laptop menyala sampai larut, bergelut dengan ilmu-ilmu baru.
Tidak pernah terlihat lagi seorang muda tidur nyenyak tenggelam dalam mimpinya dengan pintu terbuka.
Tidak pernah terlihat lagi sound system menyala dengan gitar listrik yang menggetarkan udara.
Tidak pernah terlihat lagi kamar dengan meja yang diatasnya banyak barang berserakan.
Tidak pernah terlihat lagi dua motor berserong satu lurus yang membuat ruang tamu keci.
Rumah ini cukup bersejarah, setidaknya bagi saya; kami. Rumah ini pernah kami perjuangkan, agar kami yang menempati. Rumah ini pun pernah lepas dari tangan kami dan rumah inipun akhirnya kembali lagi ke tangan kami.
Kali ini, 14 Maret 2020 tinggal aku satu satunya yang bertahan di sini. Anggi sudah berhasil menembus baju zirah kampus, dan bersiap menunggu fase kehidupan berikutnya. Bayu, dia sibuk dengan bisnisnya di kota kelahirannya. Dan bodohnya, aku masih di sini karena konsekuensi pilihan hidup. Tidak, sebenarnya aku tidak menyesali apapun, hanya saja aku tidak siap dengan perubahan yang begitu cepat. Aku bahkan tidak sanggup tau bahwa waktu sedang menggilasku dengan kenyataaan bahwa semua hal berubah, termasuk orang orang terdekatmu.
Rumah ini, jujur saja.. tidak seramai dulu. Kini, hanya ada aku yang mencoba meramaikan dengan lagu-lagu indie yang berputar otomatis dari youtube. Berharap tidak dilumat kesunyian sendiri, setidaknya aku mendengar suara.
Jujur, aku mulai merindukan bagaimana semester 1, 2, 3, 4 berjalan. Diantara kami penghuni rumah biru, maupun dengan teman sekitarku.
Banyak cerita-cerita direkam dinding biru pintu kayu.
Setiap dinding biru yang bersama pintu menjadi saksi setiap karakter kami.
Lampu cerah redup sedikit banyak menjadi saksi masa muda calon dewasa.
Lantai berdebu semakin berdebu.
Ruangan sempit motor yang istirahat, kini senggang.
Dinding yang biasa bergetar karena senar gitar, kini diam.
Tak lagi ada nada-nada sumbang yang biasa meramaikan suasana.
Tidak pernah terlihat lagi laptop menyala sampai larut, bergelut dengan ilmu-ilmu baru.
Tidak pernah terlihat lagi seorang muda tidur nyenyak tenggelam dalam mimpinya dengan pintu terbuka.
Tidak pernah terlihat lagi sound system menyala dengan gitar listrik yang menggetarkan udara.
Tidak pernah terlihat lagi kamar dengan meja yang diatasnya banyak barang berserakan.
Tidak pernah terlihat lagi dua motor berserong satu lurus yang membuat ruang tamu keci.
Rumah ini cukup bersejarah, setidaknya bagi saya; kami. Rumah ini pernah kami perjuangkan, agar kami yang menempati. Rumah ini pun pernah lepas dari tangan kami dan rumah inipun akhirnya kembali lagi ke tangan kami.
Kali ini, 14 Maret 2020 tinggal aku satu satunya yang bertahan di sini. Anggi sudah berhasil menembus baju zirah kampus, dan bersiap menunggu fase kehidupan berikutnya. Bayu, dia sibuk dengan bisnisnya di kota kelahirannya. Dan bodohnya, aku masih di sini karena konsekuensi pilihan hidup. Tidak, sebenarnya aku tidak menyesali apapun, hanya saja aku tidak siap dengan perubahan yang begitu cepat. Aku bahkan tidak sanggup tau bahwa waktu sedang menggilasku dengan kenyataaan bahwa semua hal berubah, termasuk orang orang terdekatmu.
Rumah ini, jujur saja.. tidak seramai dulu. Kini, hanya ada aku yang mencoba meramaikan dengan lagu-lagu indie yang berputar otomatis dari youtube. Berharap tidak dilumat kesunyian sendiri, setidaknya aku mendengar suara.
Jujur, aku mulai merindukan bagaimana semester 1, 2, 3, 4 berjalan. Diantara kami penghuni rumah biru, maupun dengan teman sekitarku.
Komentar
Posting Komentar
Pendapatnya dong :