Hai.
Tulisan ini kubuat untuk mu. Diriku dimasa depan yang mungkin akan membaca ini dan mengingat kembali semua hal tentang tempat ini.
Ketika aku menulis bait ini, aku sedang duduk menyaksikan gemerlapnya langit malam ditemani suara nyanyian jangkrik yang bersahutan membahas kehidupan. Aku ditemani pula oleh sunyinya malam yang membuat ku semakin mengingat beberapa masa lalu.
Masa dimana aku belum memulai kuliah. Masa dimana fikiranku masih sebebas anak burung yang tidak memperdulikan sekitarnya.
Pejamkan matamu sejenak untuk mengingat betapa indahnya malam. Malam ketika kau keluar ditengah malam hari, malam ketika kau keluar menembus jantung dingin malam diketinggian beberapa meter.
Itu semua demi menikmati indahnya langit malam. Itu semua demi menikmati sunyinya malam hari. Dan ingatlah betapa indahnya langit ketika sedang bahagia menampilkan semua koleksi bintangnya serta bulanya. Ingat betapa ingin sekali kau memetakan bintang bintang yang bahkan terkadang matamu saja hanya melihatnya tidak jelas. Ingat bulan purnama yang dikelilingi pelangi. Begitu indahnya malam. Jangan lupa akan lensa malam itu. Lensa yang membantumu melihat jauh ke atas menembus batas langit dan batas kemalasan. Membawamu jauh lebih tinggi dari yang kau lihat. Ingat bahwa kau pernah berfikir betapa kecilnya dirimu dibanding alam semesta. Ingat bahwa bintang itu yang membawa mimpi kecilmu setinggi bintang yang kau lihat. Ingatlah damainya malam itu. Ingatlah sejuknya malam itu. Ingat tenangnya malam itu.
Kau, oman. Selalu menemukan sesuatu yang indah disunyinya malam digelapnya langit. Ketika ayah, ibu mu dan adik adik mu tertidur, kau malah terjaga. Bersiap untuk melihat sesuatu yang lebih indah. Sesuatu yang mampu membawa lebih tinggi mimpimu.
Kutulis ini teruntuk diriku dimasa depan. Karna aku mulai lupa bagaimana menikmati indahnya gemerlap tarian bintang dimalam hari itu. Karna aku mulai lupa kapan bulan benar benar menunjukan setiap lubang diwajahnya agar dinikmati. Karna aku mulai lupa... bagaimana aku yang sebenarnya. Sudah 6 bulan aku tak pernah menatap langit malam. 6 bulan pula ku tak menggunakan teropong murahan itu untuk mencari mana senyum bulan. Aku lupa... sampai aku terbangun dimalam ini. Ketika ku sempatkan pulang ke dan terbangun dimalam hari. Langit... maafkan aku. Maaf.
Komentar
Posting Komentar
Pendapatnya dong :